Pesantren Sebagai Kekuatan Baru Pertumbuhan Ekonomi

Pesantren dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu kunci Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam industri halal.

Potensi pesantren di Indonesia begitu besar melihat peluang dan trend industri halal yang mendunia. Kekuatan pesantren menjadi bagian dalam kontribusi terhadap pembangunan ekonomi cukup layak diperhitungkan.

Indonesia sendiri saat ini tengah mempersiapkan 8 Kawasan Industri Halal (KIH) yang tersebar di Indonesia. Hal ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk mencapai cita-cita menjadi negara penghasil produk halal terbesar di dunia.

Di Jawa Timur sendiri, saat ini tengah menggodok Program One Pesantren One Product (OPOP). Sebuah program peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis Pondok Pesantren melalui pemberdayaan santri, pesantren, dan alumni pondok pesantren.

Sekretaris Tim Penguatan dan Pengembangan Program OPOP Jawa Timur, M. Ghofirin menjelaskan perkembangan terkini mengenai OPOP Jatim.

“Jadi kita on the right track dimana grand design OPOP Jawa Timur selama 5 tahun kita berikhtiar memberdayakan 1.000 pesantren. Dari 1.000 pesantren tentu kita bertahap 2019, 150 pesantren dan di tahun 2021 ini sudah 550 pesantren.

Dari 550 pesantren memang semuanya tidak di sektor yang sama. Sektor makanan minuman, sektor pertanian, peternakan. Bahkan ada juga pesantren yang punya usaha di bidang pariwisata dan industri kreatif,” jelasnya usai Launching SAMSAT OPOP Jatim di Amanatul Ummah, Sabtu (30/10/2021).

Launching-SAMSAT-OPOP.jpgLaunching SAMSAT OPOP Jatim oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Sabtu (30/10/2021)(Foto: Thaoqid Nur Hidayat/TIMES Indonesia)

Potensi pesantren yang sedemikian besarnya membawa peluang tersendiri. Di samping jumlah pondok pesantren, jumlah santri dan alumni pondok pesantren juga bisa menjadi kekuatan tersendiri.

“Ini menandakan bahwa pesantren di Jawa Timur memiliki potensi yang luar biasa. Bukan hanya soal jumlah pesantren yang lebih dari 12 ribu secara de facto namun juga mengenai jumlah santri dan alumninya. Santri di Jawa Timur hingga saat ini tercatat hampir 1 juta santri atau seperempat populasi santri nasional. Karena di nasional jumlah santrinya kurang lebih 4 juta belum alumninya,” terangnya.

Melihat peluang yang begitu besar, Pemprov Jawa Timur melalui OPOP Jatim hadir dengan harapan lahir produk-produk unggul dari kalangan pesantren. Membawa manfaat terhadap kesejahteraan pesantren dan masyarakat sekitar.

“Inilah yang kemudian menjadikan provinsi Jawa Timur melalui program OPOP sehingga nantinya diharapkan lahir produk-produk yang unggul dan berkualitas dari Pondok Pesantren. Lahir starup-starup bisnis dari para santri dan juga para alumni pondok pesantren,” terangnya.

Pesantren Bagian dari Pembangunan Ekonomi

OPOP Jatim turut berkontribusi dalam menjadi bagian dalam pembangunan ekonomi daerah. Berbicara pembangunan ekonomi, banyak elemen yang menyertainya. Pesantren dalam hal ini sangat berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru di tengah pandemi.

“OPOP ini kan bagian dari pembangunan ekonomi di Jawa Timur yang memang berbasis pondok pesantren. Artinya ketika bicara pembangunan ekonomi tentunya kan elemennya banyak, salah satunya pesantren, dan Pesantren itu memiliki potensi yang luar biasa,” terang M. Ghofirin kepada TIMES Indonesia.

Peluang kekuatan ekonomi baru ini didukung dengan jumlah pesantren yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Pada praktiknya di lapangan, Jawa Timur sendiri memiliki 12.000 lebih pesantren. Apabila ini dikerjakan dengan serius, maka peluang kekuatan ekonomi baru ini bisa terwujud ke depannya.

“Karena bukan hanya soal kualitasnya tapi juga soal kuantitasnya. Jawa Timur ini ada kurang lebih 12.000 Pesantren Dan yang terdata sementara ini adalah 7.000-an dan terus dinamis bergerak sesuai dengan kenyataan. De juronya 7000-an, de factonya 12.000-an. ini kalau digarap serius diberdayakan ekonominya maka ia akan menjadi arus baru kekuatan ekonomi di masa masa pandemi,” tegasnya.

Berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, Jawa Timur sendiri bisa dikatakan tidak cukup terdampak. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah investasi di daerah. Artinya Jawa Timur sendiri di saat musim pandemi, sektor pembangunan ekonominya masih berjalan dengan stabil.

“Jawa Timur yang memang kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan dan dari sisi investasi di masa pandemi seakan-akan tidak terdampak. Buktinya angka investasi Jawa Timur naik. pesantren yang merupakan salah satu entitas yang terdampak pandemi, ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Yang mana Pesantren tersebut akan mengalami kesulitan demi kesulitan, tetapi harus kita berdayakan, kita berikan stimulus, kita berikan penguatan agar Pesantren ini bangkit. Kalau pesantrennya bangkit maka ekonomi Jawa Timur Insyaallah bangkit,” jelasnya.

Berbicara mengenai menjadi pemain utama tren halal dunia. Pada tahun 2024, Indonesia harus bisa menjadi pemain utama dalam industri halal dunia. Peluang besar trend halal dunia ini juga tengah dimanfaatkan dengan baik oleh OPOP Jatim. Berfokus terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis pesantren melalui santri, pesantren, dan alumni pondok pesantren.

“Sejak adanya OPOP di tahun 2019 itu kan konsentrasi kita salah satu fokus kita adalah di industri halal mamin bahkan yang memang butuh sertifikasi halal kita latih, kita dampingi, bahkan kita bantu untuk proses pendaftarannya sehingga keluarlah sertifikat halal,” jelasnya.

“Ini yang memang harus butuh kerjasama antara pemerintah antara pelaku usaha dalam hal ini adalah industri dalam Pesantren dan juga media. Karena kita tahu medianya adalah sebuah sistem yang tidak bisa dipandang sebelah mata dia bisa memberikan edukasi media pesantren untuk melek di dalam industri halal,” pungkasnya. (st/timesid)

dibaca 116 x, hari ini 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.

Back to top
Bahasa