OPOP dan Kunci Sukses Kerjasama Antar Pesantren

Salah satu keunggulan pesantren dari sisi ekonomi adalah adanya captive market yang besar. Santri, keluarga santri, alumni dan keluarga mereka adalah pasar yang potensial bagi usaha yang dikelola oleh pesantren, apalagi bagi pesantren-pesantren besar dengan jumlah santrinya ribuan.

Ada puluhan pesantren di Jatim yang memiliki santri lebih dari 10 ribu. Contohnya saja PP Sunan Dradjat Lamongan, PP Al-Amien Sumenep, Gontor, Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Lirboyo dan Al-Falah Kediri, An-Nur Malang, dan sebagainya.

Potensi SDM pada pesantren tersebut juga sangat besar, karena banyak santri bisa dibekali skill bisnis untuk mengelolanya.

Dengan captive market yang besar, seharusnya nilai ekonomi pesantren bisa dinikmati oleh kalangan pesantren sendiri.

Di sinilah Program One Pesantren One Product (OPOP) diharapkan bisa memetakan dan mengarahkan setiap pesantren untuk bisa memiliki produk unggulan yang dibutuhkan oleh stakeholder pesantren. Sehingganya, antar pesantren bisa saling beli dan saling jual produk unggulannya; dengan kata lain, pasar pesantren dikuasai oleh pesantren sendiri.

Konsep ini sebenarnya sudah digagas dan diterapkan oleh BI Jatim. Sebanyak 17 pesantren besar di Jatim dijadikan sebagai pilot project. Mereka dibina dan disatukan dalam jaringan pesantren yang tergabung dalam Koperasi Sekunder Pesantren. Anggotanya adalah koperasi-koperasi primer pesantren.

Secara konsep, program tersebut potensinya luar biasa. Sebagai contoh saja, kebutuhan seragam santri. Pesantren yang memiliki santri 12 ribu, tiap tahun menerima 4 ribu santri baru. Kebutuhan seragam per santri sedikitnya lima, termasuk seragam olahraga. Artinya, kebutuhan tiap tahun mencapai 20 ribu seragam. Jika harga satu seragam Rp 50 ribu saja, maka nilainya mencapai Rp 1 miliar.

Dengan saling berkolaborasi, maka seharusnya ada pesantren yang punya usaha unggulan konveksi yang memproduksi seragam. Ada yang usahanya produksi songkok, sarung, dan sepatu-sandal. Ada juga yang memproduksi consumer goods seperti sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, dan sampo. Pesantren lainnya bisa memproduksi barang pertanian, beras, sayur, hingga peternakan dan perikanan.

Dari hitung-hitungan kasar, nilai ekonomi di satu pesantren per bulan mencapai miliaran. Anggaplah pengeluaran satu santri Rp 500 ribu sebulan, maka nilai ekonomi di pesantren dengan 10 ribu santri mencapai Rp 5 miliar. Padahal di beberapa pesantren, santri bisa menghabiskan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta sebulan. Bisa dihitung berapa uang berputar di pesantren dengan jumlah santri hampir sejuta di Jatim.

Kunci sukses kolaborasi antar pesantren dalam OPOP ini ada pada ego masing-masing pesantren. Sebab, pesantren ibarat kerajaan-kerajaan kecil. Mereka asyik dengan kondisinya masing-masing, dan sulit untuk saling menyerahkan potensi pasarnya ke pesantren lain.

Untuk itu, perlu dibuatkan kelompok-kelompok pesantren dalam satu kesatuan usaha atau holding. Bisa juga dengan koperasi sekunder. Setiap pesantren menjual produknya dan membeli produk lain ke koperasi sekunder yang dimiliki bersama. Dengan begitu, keuntungan nantinya akan kembali ke masing-masing pesantren berdasarkan pada keaktifannya bertransaksi.

Selain ego, sebagian besar pesantren menerapkan kepemimpinan terpusat (centralized) dimana semua hal tergantung kiyainya atau gus-gus putra kiyai. Karena itu, agar kolaborasi bisnis antar pesantren sukses, semua program untuk pesantren, termasuk OPOP, harus melibatkan langsung kiyai atau para putranya. Setinggi apa pun jabatan santri tak akan berani mengambil keputusan tanpa persetujuan dari kiyai atau putra-putrinya. (ST/mes)

dibaca 217 x, hari ini 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.

Back to top
Bahasa